AYOOBATAM.COM – Bayangan perang saudara dan kekuasaan rezim komunis Vietkong memaksa ratusan ribu warga Vietnam meninggalkan tanah air mereka pada tahun 1975. Mereka memilih mengarungi lautan yang ganas, menjadi “manusia perahu” dalam pelarian demi menyelamatkan nyawa.
Salah satu tempat persinggahan mereka yang paling bersejarah adalah Pulau Galang, Kepulauan Riau, Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, pulau ini menjadi saksi bisu perjuangan hidup dan mati 250.000 jiwa.
Operasi Frequent Wind, yang dimulai pada 29 April 1975, menandai awal pengungsian besar-besaran. Ratusan ribu warga Vietnam, bersama pasukan Amerika Serikat, berdesak-desakan di kapal-kapal kayu kecil, berlayar selama berminggu-minggu untuk mencapai tempat aman.
Perjalanan yang penuh bahaya ini, di mana satu perahu kecil bisa menampung hingga 75 orang, menjadi gambaran nyata keputusasaan mereka.
Pada 21 Mei 1975, rombongan pertama tiba di Pulau Natuna. Gelombang pengungsi yang terus berdatangan kemudian menjadi perhatian internasional. PBB, melalui UNHCR, akhirnya menetapkan Pulau Galang sebagai lokasi pengungsian.
80 hektar dari pulau seluas 250 hektar disulap menjadi kamp pengungsian yang cukup lengkap. Di sana berdiri barak-barak, rumah sakit, sekolah, rumah ibadah, dan bahkan penjara. Fasilitas air bersih dan listrik pun dibangun.
Kamp pengungsian ini menjadi kota kecil tersendiri, yang dikelola dengan ketat oleh TNI-Polri di bawah pengawasan PBB. Para pengungsi, termasuk para profesional seperti dokter, dilibatkan dalam pembangunan dan pengelolaan kamp. Indonesia dan PBB menanggung seluruh biaya hidup mereka selama kurang lebih 16 tahun.
Namun, kisah ini tak hanya tentang bantuan kemanusiaan. Setelah berakhirnya perang, upaya pemulangan ke Vietnam menemui jalan buntu. Banyak pengungsi menolak kembali, bahkan nekat menenggelamkan perahu atau mengakhiri hidup mereka sendiri. Ketakutan akan rezim komunis dan ketidakpastian masa depan di tanah air memaksa mereka bertahan di Pulau Galang.
Kini, hanya reruntuhan bangunan dan museum kecil yang tersisa di Pulau Galang. Bangkai-bangkai kendaraan menjadi saksi bisu perjuangan hidup para pengungsi Vietnam.
Kisah tragis sekaligus heroik mereka, perjuangan “manusia perahu” yang mengarungi samudra demi kehidupan baru, menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia dan dunia.
Sumber: Wikipedia